Kadang-kadang saya pusing jadi desainer grafis yang kuliah. Kok hampir tidak ada bedanya dengan penjual gorengan di pinggir jalan. Desain diperlakukan sebagai barang manufactured, barang jadi, sesuatu yang terpisah, sekunder dan bahkan tertier. Sesuatu yang hanya kosmetik, bukan jiwa dari setiap pekerjaan multidisipliner.
Kita memang harus tegas dengan nilai-nilai keprofesian kita. Desain membutuhkan proses, di dalam proses ini kita melakukan pemahaman, pendalaman dan waktu untuk trial and error. Tanpa itu semua, kita sama dengan mereka yang menawarkan jasa desain grafis cepat dan instan di pinggir jalan.
Desainer haruslah selalu dilibatkan dalam proses dari awal sampai akhir, karena desain memiliki prosesnya sendiri yang tidak selalu sama dengan proses lain:
Discovery (penelusuran) atau Consultation (konsultasi)
Dalam proses ini, desainer akan berbicara secukupnya dengan klien mengenai latar belakang proyek tersebut: apa, bagaimana, kenapa, siapa, kapan. Selain wawancara, desainer juga melakukan riset pustaka secukupnya, termasuk observasi jika perlu. Dalam tahap ini, desainer dikondisikan dengan proyek tersebut, tidak hanya dari tujuan dan rencananya, tapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sampai tahap ini, belum ada sketsa atau desain yang dibuat. Komputer dan alat lain hanya digunakan untuk mencari sumber-sumber yang bisa dijadikan dasar pada tahap selanjutnya.
Concept (konsep)
Desainer akan memulai memikirkan arah dari proyek tersebut berdasarkan hasil penelitiannya di tahap penelusuran. Di sini sketsa, moodboard, peta pemikiran dan alat bantu formulasi lain dilakukan. Ada kalanya desainer akan kembali lagi ke tahap penelusuran jika perlu, untuk memperkuat atau bahkan mengganti dasar pemikiran. Yang dihasilkan dari tahap ini: mockup, wireframe, atau simulasi lain.
Validation (pengesahan)
Pada tahap ini, dilakukan pengujian. Sama seperti prototipe kerangka mobil yang masih belum final akan diuji dalam crash-test analysis, walau konteksnya sedikit berbeda. Jika proyek desain itu adalah grafis cetak, maka bisa saja pengujian dilakukan terhadap audiens-nya. Contohnya yang paling mudah adalah pembuatan signage system (sistem marka) untuk sebuah gedung: analisis dilakukan terhadap jarak pandang, besar huruf, kontras, komposisi dan lain-lain. Proses validasi ini erat kaitannya dengan pengulangan desain (design iteration) di mana prototipe akan terus-menerus disempurnakan sesuai hasil pengesahan, sampai mendekati sempurna. Di sini, desainer akan erat berkomunikasi dengan pihak lain di dalam timnya dan luangkanlah kesempatan untuk kembali ke tahap-tahap sebelumnya jika perlu.
Detailed design (rincian desain)
Ketika prototipe sudah disetujui oleh klien maka tahap selanjutnya adalah penyempurnaan dan finalisasi. Di sini, ada baiknya kita meminimalisir kembali ke tahap sebelumnya. Persetujuan dan ketegasan kedua pihak sangat penting. Penyuntingan dan perbaikan sebaiknya adalah pada hal-hal minor.
Delivery (penyelesaian)
Di sini tahap implementasi. Jika proyek itu adalah berbasis web, maka di sinilah proses upload berlangsung. Serah terima pekerjaan juga terjadi.
Evaluation (penilaian)
Setelah sekian lama diimplementasi, maka hasil pekerjaan akan dilihat dampaknya di dunia nyata, sesuai dengan audiens yang dimaksud. Apakah pekerjaan itu benar-benar mencapai tujuannya: jika penjualan, maka apakah penjualan meningkat? Jika kesadaran, apakah benar cukup mempengaruhi masyarakat di luar sana? Tahap ini juga bisa memiliki program kerja tersendiri.
Di setiap tahap di atas, penting adanya komunikasi antara semua elemen. Tidak ada satu elemen yang lebih unggul, termasuk klien. Klien juga harus mengerti proses kerja ini. Programmer juga tidak boleh melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan desainer, pun sebaliknya. Karena apa? Karena kita harus percaya pada kemampuan masing-masing kutub.
Semua yang saya tulis di sini berdasarkan pengalaman dan kesalahan saya di masa lalu juga. Saya tidak proaktif dalam memberikan edukasi kepada klien dan teman-teman kerja saya. Alhasil, kreasi desain saya juga banyak yang akhirnya menjadi komoditas jadi. Ketika komoditas itu diserahkan pada orang lain untuk diimplementasikan, tanpa sepengetahuan dan pengawasan saya dari sisi desain, hasilnya sangat tidak memuaskan dan malah membunuh maksud desain itu dari awal. Contoh paling mudah adalah tipografi. Tidak semua orang paham tipografi, apalagi programmer. Mereka tidak mengerti spacing, padding, white space, pemilihan wajah huruf yang tepat (tentu, tipografi jauh lebih luas dari hal-hal tersebut). Desain, seperti halnya apa yang dikatakan Jason Santa Maria dalam uraian mengenai redesain situs web pribadinya (atau seperti ujarnya, “rethinking“) seharusnya tidak hanya menjadi ‘tempat’ bagi konten saja. Desain haruslah menjadi satu dengan konten, mendukung konten dan sebaliknya, atau bahkan mengemudikan konten itu sendiri.