Serendipify!

3
7/2008

Iteration

Evening Cloud in Narita

Our life is an iteration. It’s a series of recurring similar events. Anything that we do today has been done by people in the past. Anything that we do now, is continuing, causal action of what we did in the past.

In the design world, iteration is important in getting the job perfected over time. It comes necessary as we are no magician who can make a perfect job in one try. It is a way to manage our ideas, energy and time. We would have all been in desperation if we take whole effort in one sitting. Time is everything. Time will tell.

If we stop, we die. We kill the process. Join in the effort. Our life is so much more than just a goal, it’s the minutes that matter. Breathing one life at a time, each day. Seeing one thing at a time. Speaking one thing at a time. Doing one thing at a time. All for the sake of perfecting our lives.

Imperfectness is a sign of progress, a sign that we have actually started doing. Take one little step further on that and we’re making more progress. Small progresses count, for in the end it will accumulate and the result will be greater. Some people say the end result would be even greater than the sum of its parts.

That’s why some people prefer to have unsettled life because it keeps changing and the perfecting effort is going on. Ironically, I see that although some of us despise suffering, once they’re settled and the needs fulfilled, they miss the time when they suffered. Suffering is human’s best friend, the irregularity of everyday life keeps us alive.

Nothing in life is more profound and peaceful than imperfectness. I love it.

+

1
7/2008

The Sweetness of a Fling

Would a certain little girl
entered a candy store
and had this instant thrill
by a myriad of sweets galore?

It must have been a kind
of a long, dark secret kept
to have the gut, to find
this dream she slept

Alone, weary, and worried
she traveled, with hope
and dreams to a happy end
from the reality she rode

It must have been hard
to keep, to restrain
the eager to break apart
from the strong chain

So when she finally
broke the rules, and
the candy store was a finale
she got it all in one hand

In her endless infatuation,
bursts of anger turned
inside her imagination
afraid of dreams being ruined

The world was turning
her feelings were trembling
but only to find an awakening
that there’s strength forming

And with all this, she
begins to see what’s within
and to put a new hope, she
knows that hope still lies within

The stonehearted little girl
and the secret candy store
might have gone by the whirl
but our hope remains ashore

+

24
6/2008

Mulai dari diri, mulai dengan murni

Akhir-akhir ini betapa pentingnya, saya sadari, untuk memulai setiap pekerjaan desain dengan segar dan kanvas atau kertas kosong. Tentu saja, tidak selalu harus dengan kanvas atau kertas kosong. Setiap pekerjaan adalah unik, mulailah dari titik nol. Jika tidak bisa dari titik nol secara harfiah, karena memang ada brief atau material lain yang sudah ada dan harus diimplementasi sebagai dasar, mulailah dengan pikiran atau mindset yang segar. Jika sebelumnya sudah ada yang mengerjakan pekerjaan Anda, dan Anda tinggal melanjutkannya (seperti yang banyak saya kerjakan), maka buatlah diri Anda berpikir seolah-olah itu adalah pekerjaan Anda dari awal. Telusuri masalah awalnya, jika memungkinkan cobalah sketsakan apa alternatif yang mungkin dari ide awal tersebut. Bisa saja Anda mendapatkan ide atau proposal yang bisa mengubah arah jangka panjang desain tersebut di masa datang. Jika tidak pun, proses penelusuran ulang memberikan pandangan, semangat dan rasa memiliki agar kita lebih fokus dalam mengerjakannya.

Desain, dalam satu sisi, mencari solusi visual untuk berkomunikasi. Terkadang, banyak hal yang mempengaruhi saya dalam memulai suatu pekerjaan. Banyak pertimbangan ini dan itu: apakah desain itu berkelanjutan? Tidak over budget atau berpotensi ke arah itu? Apakah faktor aksesibilitas telah dipertimbangkan? Apa nanti ada implementasi yang tidak perlu? Apa nanti pada akhirnya merugikan saya atau tujuan desain itu sendiri? Cukupkah kemampuan saya untuk mewujudkan suatu ide?

Setiap pekerjaan memiliki tujuan dan koridornya. Tidak semua harus dipatok begini dan begitu. Ketika kita mulai mematok, maka di situlah kita berhenti. Ketika memulai dengan murni, dan membuat diri kita menelusuri dengan bebas, di situlah kita temui di mana benar dan di mana salah. Percaya dengan kemampuan diri, sampai di manakah tahap kita, di situlah kita temui ruang untuk berkembang.

Allow yourself to be wrong. Now you will see that everything is possible. (oleh Paul Arden)

1

20
6/2008

Renungan bagi para desainer dan non-desainer

Kadang-kadang saya pusing jadi desainer grafis yang kuliah. Kok hampir tidak ada bedanya dengan penjual gorengan di pinggir jalan. Desain diperlakukan sebagai barang manufactured, barang jadi, sesuatu yang terpisah, sekunder dan bahkan tertier. Sesuatu yang hanya kosmetik, bukan jiwa dari setiap pekerjaan multidisipliner.

Kita memang harus tegas dengan nilai-nilai keprofesian kita. Desain membutuhkan proses, di dalam proses ini kita melakukan pemahaman, pendalaman dan waktu untuk trial and error. Tanpa itu semua, kita sama dengan mereka yang menawarkan jasa desain grafis cepat dan instan di pinggir jalan.

Desainer haruslah selalu dilibatkan dalam proses dari awal sampai akhir, karena desain memiliki prosesnya sendiri yang tidak selalu sama dengan proses lain:

Discovery (penelusuran) atau Consultation (konsultasi)
Dalam proses ini, desainer akan berbicara secukupnya dengan klien mengenai latar belakang proyek tersebut: apa, bagaimana, kenapa, siapa, kapan. Selain wawancara, desainer juga melakukan riset pustaka secukupnya, termasuk observasi jika perlu. Dalam tahap ini, desainer dikondisikan dengan proyek tersebut, tidak hanya dari tujuan dan rencananya, tapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sampai tahap ini, belum ada sketsa atau desain yang dibuat. Komputer dan alat lain hanya digunakan untuk mencari sumber-sumber yang bisa dijadikan dasar pada tahap selanjutnya.

Concept (konsep)
Desainer akan memulai memikirkan arah dari proyek tersebut berdasarkan hasil penelitiannya di tahap penelusuran. Di sini sketsa, moodboard, peta pemikiran dan alat bantu formulasi lain dilakukan. Ada kalanya desainer akan kembali lagi ke tahap penelusuran jika perlu, untuk memperkuat atau bahkan mengganti dasar pemikiran. Yang dihasilkan dari tahap ini: mockup, wireframe, atau simulasi lain.

Validation (pengesahan)
Pada tahap ini, dilakukan pengujian. Sama seperti prototipe kerangka mobil yang masih belum final akan diuji dalam crash-test analysis, walau konteksnya sedikit berbeda. Jika proyek desain itu adalah grafis cetak, maka bisa saja pengujian dilakukan terhadap audiens-nya. Contohnya yang paling mudah adalah pembuatan signage system (sistem marka) untuk sebuah gedung: analisis dilakukan terhadap jarak pandang, besar huruf, kontras, komposisi dan lain-lain. Proses validasi ini erat kaitannya dengan pengulangan desain (design iteration) di mana prototipe akan terus-menerus disempurnakan sesuai hasil pengesahan, sampai mendekati sempurna. Di sini, desainer akan erat berkomunikasi dengan pihak lain di dalam timnya dan luangkanlah kesempatan untuk kembali ke tahap-tahap sebelumnya jika perlu.

Detailed design (rincian desain)
Ketika prototipe sudah disetujui oleh klien maka tahap selanjutnya adalah penyempurnaan dan finalisasi. Di sini, ada baiknya kita meminimalisir kembali ke tahap sebelumnya. Persetujuan dan ketegasan kedua pihak sangat penting. Penyuntingan dan perbaikan sebaiknya adalah pada hal-hal minor.

Delivery (penyelesaian)
Di sini tahap implementasi. Jika proyek itu adalah berbasis web, maka di sinilah proses upload berlangsung. Serah terima pekerjaan juga terjadi.

Evaluation (penilaian)
Setelah sekian lama diimplementasi, maka hasil pekerjaan akan dilihat dampaknya di dunia nyata, sesuai dengan audiens yang dimaksud. Apakah pekerjaan itu benar-benar mencapai tujuannya: jika penjualan, maka apakah penjualan meningkat? Jika kesadaran, apakah benar cukup mempengaruhi masyarakat di luar sana? Tahap ini juga bisa memiliki program kerja tersendiri.

Di setiap tahap di atas, penting adanya komunikasi antara semua elemen. Tidak ada satu elemen yang lebih unggul, termasuk klien. Klien juga harus mengerti proses kerja ini. Programmer juga tidak boleh melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan desainer, pun sebaliknya. Karena apa? Karena kita harus percaya pada kemampuan masing-masing kutub.

Semua yang saya tulis di sini berdasarkan pengalaman dan kesalahan saya di masa lalu juga. Saya tidak proaktif dalam memberikan edukasi kepada klien dan teman-teman kerja saya. Alhasil, kreasi desain saya juga banyak yang akhirnya menjadi komoditas jadi. Ketika komoditas itu diserahkan pada orang lain untuk diimplementasikan, tanpa sepengetahuan dan pengawasan saya dari sisi desain, hasilnya sangat tidak memuaskan dan malah membunuh maksud desain itu dari awal. Contoh paling mudah adalah tipografi. Tidak semua orang paham tipografi, apalagi programmer. Mereka tidak mengerti spacing, padding, white space, pemilihan wajah huruf yang tepat (tentu, tipografi jauh lebih luas dari hal-hal tersebut). Desain, seperti halnya apa yang dikatakan Jason Santa Maria dalam uraian mengenai redesain situs web pribadinya (atau seperti ujarnya, “rethinking“) seharusnya tidak hanya menjadi ‘tempat’ bagi konten saja. Desain haruslah menjadi satu dengan konten, mendukung konten dan sebaliknya, atau bahkan mengemudikan konten itu sendiri.

+

19
6/2008

Pemilihan huruf di Indiana Jones: Kingdom of the Crystal Skull

Did they finally get it right in the fourth film, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008)? Not quite. They didn’t use Serif Gothic this time, or even Helvetica (which would just have been released in 1957, the year in which the film is set). Instead, they used Century Gothic, a font that didn’t exist until 1989. This wouldn’t necessarily be a problem since Century Gothic’s caps are very similar to Futura, which would be perfectly appropriate for 1957. Unfortunately, Century Gothic is also a clone of Avant Garde (1970), a typeface with very large lowercase letters, a quintessentially Seventies characteristic. (More about Century Gothic here.) So, not the best choice.

via Mark Simons.

+

18
6/2008

Integritas dan Profesionalisme

Apa sih, makna integritas. Apa juga makna profesionalisme dalam pekerjaan? Ketika kita bekerja untuk orang lain, atau melakukan pekerjaan wiraswasta sekalipun, kita selalu dihadapkan dengan tuntutan menjadi orang yang berintegritas tinggi dan selalu profesional. Tidak hanya soal bekerja tentunya, karena nilai-nilai itu juga berlaku setiap kita berhubungan dengan orang lain dalam beragam kesempatan.

Integritas, sejauh saya memandangnya, adalah memegang teguh, utuh dan satu; seluruh prinsip-prinsip yang menggarisbawahi kegiatan atau tanggungjawab kita. Jujur, patuh dan konsisten adalah antara nilai-nilai yang ada di dalamnya. Profesional di lain hal, adalah ibu dari integritas: sesuatu yang menaungi nilai-nilai dalam tanggungjawab. Atau mungkinkah ia juga keluaran dari integritas? Bisa juga.

Integritas tidak bisa dipaksakan, tapi bisa dipelajari dan dipupuk. Ketika seorang pekerja (pekerja, di sini, tidak hanya mereka yang bekerja di bawah seseorang, di perusahaan; tetapi juga mereka yang berwiraswasta dan segala bentuk pekerjaan lain) melaksanakan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaraan dan kepatuhan. Mereka menghargai kepercayaan pemberi kerja, bertekad untuk menyelesaikan tugas dengan sempurna. Apa yang telah dimulai, harus diselesaikan dengan baik dan maksimal. Dalam ketidakmampuan pun, pekerja diharuskan tetap memberikan yang terbaik selama dia mampu. Termasuk caranya berhenti, jika memang ia tak sanggup. Semua dilakukan dengan santun, tegas dan sadar. Diawasi atau tidak diawasi. Disuruh atau tidak disuruh. Ada tugas maupun tidak ada tugas. Tujuannya satu: tujuan makro, kolektif, perusahaan, entitas, klien dan di balik semua itu, pribadi.

Lantas, apakah kita lalu menyerahkan sepenuhnya diri kita dan mengikuti semuanya tanpa berpikir? Apakah kemudian kita menjadi pengikut saja? Tentu saja tidak. Ada kalanya ketika kita perlu berdiri dan menjaga kepercayaan dan prinsip kita sendiri, karena pada dasarnya setiap individu tidak masuk ke suatu lingkungan tanpa bekal, masing-masing memiliki sesuatu untuk diajarkan dan layak dipercayai. Masing-masing individu adalah penentu. Hubungan antara atasan dan bawahan tidaklah sepenuhnya berdasarkan komando. Ada baiknya jika perbedaan tanggungjawab dan pengalaman tidak membentuk jarak. Kepercayaan dan peraturan massal tidak seharusnya membunuh aspirasi individu. Semangat egaliter bisa jadi nilai tambah, dan saya percaya, di masa depan, bisa saja hanya semangat itulah yang membawa kita pada kesuksesan.

Integritas dan profesionalisme akan terpupuk dengan sendirinya, jika kita menjadi cinta dengan pekerjaan kita, dengan lingkungan kita dan dengan aspirasi kita ke depan. Semuanya tidak ditempuh dalam satu dua hari, satu dua minggu, satu dua bulan dan bahkan selamanya. Semuanya ditempuh dengan pendekatan kecintaan.

+

8
6/2008

The Way Home (2002)

Directed by by Lee Jeong-hyang

It’s been quite a while since I reviewed a film other than recently a wonderful documentary “Earth” (2007). Now comes a film I’ve always wanted to review since I last watched it almost a year ago!

The Way Home ((집으로 – Jibeuro) is a South Korean film produced in 2002, which also became second-grossing local film in the country that time. Directed by Lee Jeong-hyang, this film, in a nutshell, is a beautiful story of unconditional love between the young and the old, between near yet far familial connection of a young boy and his grandmother whom he never met. It also touches the issue of urbanisation and irony of modernisation, where a young seven year-old urban boy visits a rural area and having a hard time to adapt to local wisdom and way of life.

We first meet the boy, Sang-Woo (Seung-Ho Yoo), on a travel by train to a rural village with his mother (Dong Hyo-hee). His mother is seeking a job in Seoul, thus she wants him to stay for a while with his deaf and mute grandmother (Kim Eul-boon) in a simple house made of wood and haystacks in the village. Confronted with a new environment he never seen and felt before, he is being very resistant. Despite the unconditional efforts of his grandma to make him feel at home and fulfill all his dire needs, Sang-Woo never manages to settle and adapt. Communication is a challenge for both of them. Spoiled by nature, Sang-Woo wants all worldly things that every city children now wants from their mother and father: video games, fast food, convenience, batteries, industry-made snacks. This is so much in contrast with the living condition and environment in which they’re in: rural, self-producing — where people still feed livestocks, plant paddies and take a long walk to the market to sell produces they have invested their time in. Frustrated, Sang-Woo gets to call his grandma “retard”. One vivid scene that moves me is when Sang-Woo asks for Kentucky Fried Chicken and through dire but silent and unconditional love, his grandma seems to be able to almost fulfill the request, the hard way: she has to buy chicken and walk home because she’s run out of money to take the bus, and since she is not able to fry it, a salted chicken is presented instead. Hard-headed, spoilt Sang-Woo rejects it, but eventually loses to his hunger. These frustrations lead him to exploring the countryside on himself and gets him introduced to fellow little friends in the village, which he eventually makes infatuation with.

The story moves forward and teaches us that change and education can be made the hard way: Sang-Woo eventually falls into the values of his grandma, the values of the tradition - that unconditional love is one wish that he could ever have made. When Sang-Woo’s mother finally picks him up, Sang-Woo has already made a sincere emotional bond with his grandma, starting to realise how important she is for him. In the last part of the film, Sang-Woo continues to send hand-drawn cards for his grandmother.

This is a silent drama, in terms that there have been minimal dialogues, but not in wide absence nonetheless. Touching in every sense in each frame, with rural South Korea pictured beautifully. Next time you want to watch a film with your seven or ten year-old kid, pick this up right from the shelves. In the end, we would like to see our next generation appreciates the tradition and blur the contrast more between modern hedonism and the benefits of simple living.

Stars: four out of five.
IMDb link: Jibeuro.

+

8
6/2008

Trainlust

I found this lost archive of my past weblog when I was still more naive. I sent an email to Passport Travel, way back in 2004, asking what a two-week’s worth trip on the Trans-Siberian express would read like, and here it was.

So, it’s really a $2000 journey, anyway:

Hi Sigit

Here is the itinerary and cost, as follows:-

Day 01 - Depart Beijing on Train No. 23 at 7.40 a.m. (4 berth sleeper) - train only departs on Saturdays

Day 02 - Arrive Ulaan Baatar at 1 p.m. - you are met upon arrival and transferred to your homestay (1 night/breakfast)

Day 03 - Transfer to station - Depart Ulaan Baatar on Train No. 263 at 9 p.m. (4 berth sleeper) - on train until Day 5 - train departs daily

Day 05 - Arrive Irkutsk at 8.30 a.m. - you are met upon arrival and transferred to your homestay at Listvyanka (1 night/breakfast)

Day 06 - Transfer to Irkutsk and station - depart Irkutsk on Train No. 9 at 4.35 pm. (4 berth sleeper) - on train until Day 9 - train departs only on even numbered days

Day 09 - arrive Moscow at 4.50 p.m. - transfer to homestay (3
nights/breakfast/3 hour orientation tour) - in Moscow until Day 12

Day 12 - Services end

The cost is US$965 and includes all rail tickets in a 4 berth sleeper, all homestay accommodation with breakfast daily, transfers where specified, orientation tour in Moscow and visa invitation letter for Russia.

Okay, Sigit, over to you.

Regards
Helen
Passport Travel

…with the tickets Jakarta - Beijing about $300 and Moscow - Jakarta approximately $600 - $700.

+

About this Site

Sigit Adinugroho: graphic designer, globetrotter and dreamkeeper.

If you have time: my portfolio or more about me.